google6d42a204e5093e5a.html Wenny: Biografi Imam Asy-Syafi'i

Kamis, 05 Januari 2012

Biografi Imam Asy-Syafi'i

BIOGRAFI IMAM ASY-SYAFI’I

Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’
bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin
al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b
bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki,
keluarga dekat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan putera
pamannya.

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul
Muththalib, kakek Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Jadi, Imam
asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi
Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga.

Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’
bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika masih muda.

Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika
suatu hari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berada di sebuah tempat
yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta
puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam memandanginya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan
bila seseorang mirip dengan ayahnya.”

Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.

Gelarnya

Ia digelari sebagai Naashir al-Hadits (pembela hadits) atau Naashir
as-Sunnah, gelar ini diberikan karena pembelaannya terhadap hadits
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dan komitmennya untuk
mengikuti as-Sunnah.

Kelahiran Dan Pertumbuhannya

Para sejarawan sepakat, ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan
-menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah ;Tetapi
mengenai tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.

Tempat Kelahirannya

Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi’i. Yang
paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah (Ghaza).
Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan
di Yaman.
Ibn Hajar mengkonfirmasikan secara lebih spesifik lagi dengan
mengatakan tidak ada pertentangan antar riwayat-riwayat tersebut (yang
mengatakan Ghaza atau ‘Asqalan), karena ketika asy-Syafi’i mengatakan
ia lahir di ‘Asqalan, maka maksudnya adalah kotanya sedangkan Ghaza
adalah kampungnya.

Ketika memasuki usia 2 tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan
berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang
Yaman, karena ibunya berasal dari suku Azd. Ketika berumur 10 tahun,
ia dibawa ibunya ke Mekkah karena ibunya khawatir nasabnya yang mulia
itu lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhan Dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu

Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di
samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing
dari keluarga.

Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya
atas taufiq Allah, ibunya membawanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari
situ, mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil
menamatkannya dalam usia 7 tahun.

Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa belajar dan mencari
guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya, namun gurunya
rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia banyak
menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari
beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke
tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke
dalam karung.

Ia juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih
berusia sekitar 10 tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati
agar ia bersungguh-sungguh untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia
pun merasakan lezatnya menuntut ilmu dan karena kondisi ekonominya
yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus pergi ke
perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya
untuk mencatat.

Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada
usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab
al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat
lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya
Muslim bin Khalid az-Zanji.

Semula beliau begitu gandrung dengan sya’ir dan bahasa di mana ia
hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, ia sempat berinteraksi
dengan mereka selama 10 atau 20 tahun. Ia belajar ilmu bahasa dan
balaghah.

Dalam ilmu hadits, ia belajar dengan imam Malik dengan membaca
langsung kitab al-Muwaththa` dari hafalannya sehingga membuat sang
imam terkagum-kagum. Di samping itu, ia juga belajar berbagai disiplin
ilmu sehingga gurunya banyak.

Pengembaraannya Dalam Menuntut Ilmu

Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih
lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai
suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari
orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping
syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta
sastra.

Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi,
bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan
mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.

Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya
amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan
pingsan.

Hal ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin
menangis, masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah
menuju pemuda al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,”. Dan bila
kami sudah mendatanginya sedang shalat di al-Haram seraya memulai
bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih dan menangis tersedu-sedu
saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi orang-orang seperti itu,
ia berhenti membacanya".

Di Mekkah, setelah dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru
kepada Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah. Setelah itu,
ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Di
sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun hingga sang
guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada
Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan
ulama-ulama selain mereka.

Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah Najran sebagai
Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang
ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan
menjelek-jelekkannya serta mengadukannya kepada khalifah Harun
ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar al-Khilafah pada tahun 184 H.
Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di hadapan khalifah dengan
hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi khalifah bahwa
tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak
bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini
dimuat pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).

Beliau kemudian merantau ke Baghdad dan di sana bertemu dengan
Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid Imam Abu Hanifah. Beliau
membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu Ahli Ra`yi (kaum Rasional),
kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana selama kurang
lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui halaqah-halaqah
ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah, demikian juga
melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim haji.
Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.

Kemudian beliau kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana
sudah ada majlisnya yang dihadiri oleh para ulama dan disesaki para
penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru.

Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya untuk
mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab
lamanya (Qaul Qadim). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat
seniornya yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur,
az-Za’farany dan al-Karaabiisy.

Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana dalam waktu yang
relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad lagi,
tepatnya pada tahun 198 H.

Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk kemudian
meninggalkannya menuju Mesir.

Beliau tiba di Mesir pada tahun 199 H dan rupanya kesohorannya sudah
mendahuluinya tiba di sana. Dalam perjalanannya ini, beliau didampingi
beberapa orang muridnya, di antaranya ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady
dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy.

Beliau singgah dulu di Fushthath sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul
Hakam yang merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi
pengajiannya di Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari
pengikut dua imam sebelumnya, yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam
Malik lebih condong kepadanya dan terkesima dengan kefasihan dan
ilmunya.

Di Mesir, beliau tinggal selama 5 tahun di mana selama masa ini
dipergunakannya untuk mengarang, mengajar, berdebat (Munazharah) dan
mengcounter pendapat-pendapat lawan. Di negeri inilah, beliau
meletakkan madzhab barunya (Qaul Jadid), yaitu berupa hukum-hukum dan
fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir, sebagiannya
berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di
Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang
diriwayatkan oleh para muridnya.
 
Kemunculan Sosok Dan Manhaj (Metode) Fiqihnya

Mengenai hal ini, Ahmad Tamam di dalam bukunya asy-Syaafi’iy: Malaamih
Wa Aatsaar menyebutkan bagaimana kemunculan sosok asy-Syafi’i dan
manhaj fiqihnya. Sebuah manhaj yang merupakan paduan antara fiqih Ahli
Hijaz dan fiqih Ahli Iraq, manhaj yang dimatangkan oleh akal yang
menyala, kemumpunian dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kejelian dalam
linguistik Arab dan sastra-sastranya, kepakaran dalam mengetahui
kondisi manusia dan permasalahan-permasalahan mereka serta kekuatan
pendapat dan qiyasnya.

Bila kembali ke abad 2 Hijriah, kita mendapati bahwa pada abad ini
telah muncul dua ‘’perguruan’ (Madrasah) utama di dalam fiqih Islam;
yaitu perguruan rasional (Madrasah Ahli Ra`yi) dan perguruan hadits
(Madrasah Ahli Hadits).

Perguruan pertama eksis di Iraq dan merupakan kepanjangan tangan dari
fiqih ‘Abdullah bin Mas’ud yang dulu tinggal di sana. Dalam hal ini,
Ibn Mas’ud banyak terpengaruh oleh manhaj ‘Umar bin al-Khaththab di
dalam berpegang kepada akal (pendapat) dan menggali illat-illat hukum
manakala tidak terdapat nash baik dari Kitabullah mau pun dari Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Sedangkan perguruan Ahli
Hadits berkembang di semenanjung Hijaz dan merupakan kepanjangan
tangan dari perguruan ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar,
‘Aisyah dan para ahli fiqih dari kalangan shahabat lainnya yang
berdiam di Mekkah dan Madinah. Perguruan ini unggul dalam hal
keberpegangannya sebatas nash-nash Kitabullah dan as-Sunnah, bila
tidak mendapatkannya, maka dengan atsar-atsar para shahabat. Di
samping itu, timbulnya perkara-perkara baru yang relatif sedikit di
Hijaz, tidak sampai memaksa mereka untuk melakukan penggalian hukum
(istinbath) secara lebih luas, berbeda halnya dengan kondisi di Iraq.

Saat imam asy-Syafi’i muncul, antara kedua perguruan ini terjadi
perdebatan yang sengit, maka ia kemudian mengambil sikap menengah
(baca: moderat). Beliau berhasil melerai perdebatan fiqih yang terjadi
antara kedua perguruan tersebut berkat kemampuannya di dalam
menggabungkan antara kedua manhaj perguruan tersebut mengingat ia
sempat berguru kepada tokoh utama dari keduanya; dari perguruan Ahli
Hadits, ia berguru dengan pendirinya, Imam Malik dan dari perguruan
Ahli Ra`yi, ia berguru dengan orang nomor dua yang tidak lain adalah
sahabat dan murid Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan
asy-Syaibany.

Imam asy-Syafi’i menyusun Ushul (pokok-pokok utama) yang dijadikan
acuan di dalam fiqihnya dan kaidah-kaidah yang dikomitmennya di dalam
ijtihadnya pada risalah ushul fiqih yang berjudul ar-Risalah. Ushul
tersebut ia terapkan dalam fiqihnya. Ia merupakan ushul amaliah bukan
teoritis.

Pertama, ia merujuk kepada al-Qur’an dan hal-hal yang nampak baginya
dari itu kecuali bila ada dalil lain yang mengharuskan pengalihannya
dari makna zhahirnya, kemudian setelah itu, ia merujuk kepada
as-Sunnah bahkan sampai pada penerimaan khabar Ahad yang diriwayatkan
oleh periwayat tunggal namun ia seorang yang tsiqah (dapat dipercaya)
pada diennya, dikenal sebagai orang yang jujur dan tersohor dengan
kuat hafalan.

Asy-Syafi’i menilai bahwa as-Sunnah dan al-Qur’an setaraf sehingga
tidak mungkin melihat hanya pada al-Qur’an saja tanpa melihat lagi
pada as-Sunnah yang menjelaskannya. Al-Qur’an membawa hukum-hukum yang
bersifat umum dan kaidah kulliyyah (bersifat menyeluruh) sedangkan
as-Sunnah lah yang menafsirkan hal itu. as-Sunnah pula lah yang
mengkhususkan makna umum pada al-Qur’an, mengikat makna Muthlaq-nya
atau menjelaskan makna globalnya.

Untuk berhujjah dengan as-Sunnah, asy-Syafi’i hanya mensyaratkan
bersambungnya sanad dan keshahihannya. Bila sudah seperti itu maka ia
shahih menurutnya dan menjadi hujjahnya. Ia tidak mensyaratkan harus
tidak bertentangan dengan amalan Ahli Madinah untuk menerima suatu
hadits sebagaimana yang disyaratkan gurunya, Imam Malik, atau hadits
tersebut harus masyhur dan periwayatnya tidak melakukan hal yang
bertolak belakang dengannya.

Selama masa hidupnya, Imam asy-Syafi’i berada di garda terdepan dalam
membela as-Sunnah, menegakkan dalil atas keshahihan berhujjah dengan
hadits Ahad. Pembelaannya inilah yang merupakan faktor semakin
melejitnya popularitas dan kedudukannya di sisi Ahli Hadits sehingga
mereka menjulukinya sebagai Naashir as-Sunnah (Pembela as-Sunnah).

Setelah merujuk al-Qur’an dan as-Sunnah, asy-Syafi’i menjadikan ijma’
sebagai dalil berikutnya bila menurutnya tidak ada yang bertentangan
dengannya, kemudian baru Qiyas tetapi dengan syarat terdapat asalnya
dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Penggunaannya terhadap Qiyas tidak
seluas yang dilakukan Imam Abu Hanifah.

Aqidahnya

Di sini dikatakan bahwa ia seorang Salafy di mana ‘aqidahnya sama
dengan ‘aqidah para ulama salaf; menetapkan apa yang ditetapkan Allah
dan RasulNya dan menafikan apa yang dinafikan Allah dan RasulNya tanpa
melakukan tahrif (perubahan), ta`wil (penafsiran yang menyimpang),
takyif (Pengadaptasian alias mempertanyakan; bagaimana), tamtsil
(Penyerupaan) dan ta’thil (Pembatalan alias pendisfungsian asma dan
sifat Allah).

Beliau, misalnya, mengimani bahwa Allah memiliki Asma` dan Sifat
sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam
haditsnya, bahwa siapa pun makhluk Allah yang sudah ditegakkan hujjah
atasnya, al-Qur’an sudah turun mengenainya dan menurutnya hadits
Rasulullah sudah shahih karena diriwayatkan oleh periwayat yang adil;
maka tidak ada alasan baginya untuk menentangnya dan siapa yang
menentang hal itu setelah hujjah sudah benar-benar valid atasnya, maka
ia kafir kepada Allah.

Beliau juga menyatakan bahwa bila sebelum validnya hujjah atas
seseorang dari sisi hadits, maka ia dapat ditolerir karena
kejahilannya sebab ilmu mengenai hal itu tidak bisa diraba hanya
dengan akal, dirayah atau pun pemikiran.

Beliau juga mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar, memiliki dua
tangan, berada di atas ‘arasy-Nya dan sebagainya.

Beliau juga menegaskan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan
keyakinan dengan hati. (untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk buku
Manaaqib asy-Syafi’i karangan Imam al-Baihaqi; I’tiqaad al-A`immah
al-Arba’ah karya Syaikh Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais.

Tawadlu’, Wara’ & Ibadahnya

Imam asy-Syafi’i terkenal dengan ketawadlu’an (kerendahan hati)-nya
dan ketundukannya pada kebenaran. Hal ini dibuktikan dengan
pengajiannya dan pergaulannya dengan teman sejawat, murid-murid dan
orang-orang lain.

Demikian juga, para ulama dari kalangan ahli fiqih, ushul, hadits dan
bahasa sepakat atas keamanahan, keadilan, kezuhudan, kewara’an,
ketakwaan dan ketinggian martabatnya.

Sekali pun demikian agungnya beliau dari sisi ilmu, ahli debat, amanah
dan hanya mencari kebenaran, namun hal itu semua bukan karena ingin
dipandang dan tersohor. Karena itu, masih terduplikasi dalam memori
sejarah ucapannya yang amat masyhur, “Tidaklah aku berdebat dengan
seseorang melainkan aku tidak peduli apakah Allah menjelaskan
kebenaran atas lisannya atau lisanku.”

Sampai-sampai saking hormatnya Imam Ahmad kepada gurunya, asy-Syafi’i
ini; ketika ia ditanya oleh anaknya tentang gurunya tersebut, “Siapa
sih asy-Syafi’i itu hingga ayahanda memperbanyak doa untuknya?” ia
menjawab, “Imam asy-Syafi’i ibarat matahari bagi siang hari dan ibarat
kesehatan bagi manusia; maka lihat, apakah bagi keduanya ini ada
penggantinya?”

Imam asy-Syafi’i seorang yang faqih, banyak akalnya, benar pandangan
dan fikirnya, ahli ibadah dan dzikir. Beliau amat mencintai ilmu,
sampai-sampai ia berkata, “Menuntut ilmu lebih afdlal daripada shalat
sunnat.”

Sekali pun demikian, ar-Rabi’ bin Sualaiman, muridnya meriwayatkan
bahwasanya ia selalu shalat malam hingga wafat dan setiap malam satu
kali khatam al-Qur’an.

Ad-Dzahabi di dalam kitabnya Siyar an-Nubalaa` meriwayatkan dari
ar-Rabi’ bin Sulaiman yang berkata, “Imam asy-Syafi’i membagi-bagi
malamnya; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk
shalat dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Menambahi ucapan ar-Rabi’ tersebut, Adz-Dzahabi berkata, “Tentunya,
ketiga pekerjaan itu hendaknya dilakukan dengan niat.”

Ya, Imam adz-Dzahabi benar sebab niat merupakan ciri kelakuan para
ulama. Bila ilmu membuahkan perbuatan, maka ia akan meletakkan
pelakunya di atas jalan keselamatan.

Betapa kita sekarang-sekarang ini lebih berhajat kepada para ulama
yang bekerja (‘amiliin), yang tulus (shadiqiin) dan ahli ibadah
(‘abidiin), yang menjadi tumpuan umat di dalam menghadapi berbagai
problematika yang begitu banyaknya, La hawla wa la quwwata illa
billaah.

Imam asy-Syafi’i tetap tinggal di Mesir dan tidak pergi lagi dari
sana. Beliau mengisi pengajian yang dikelilingi oleh para muridnya
hingga beliau menemui Rabbnya pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H.

Alangkah indah isi bait Ratsâ` (sya’ir mengenang jasa baik orang sudah
meninggal dunia) yang dikarang Muhammad bin Duraid, awalnya berbunyi,

Tidakkah engkau lihat peninggalan Ibn Idris (asy-Syafi’i) setelahnya

Dalil-dalilnya mengenai berbagai problematika begitu berkilauan.


(Diringkas dan disadur oleh, Abu Hafshoh al-‘Afifah).

REFERENSI:
- asy-Syafi’i; Malaamih Wa Atsar Fi Dzikra Wafaatih karya Ahmad Tamam
- I’tiqaad A`immah as-Salaf Ahl al-Hadits karya Dr. Muhammad
‘Abdurrahman al-Khumais
- Mawsuu’ah al-Mawrid al-Hadiitsah
- Al-Imam asy-Syafi’i Syaa’iran karya Muhammad Khumais
- Diiwaan al-Imam asy-Syafi’i, terbitan al-Hai`ah al-Mishriiyyah Li al-Kitaab
- Qiyaam asy-Syafi’i (Thariqul Islam).
- Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’i karya Dr.Muhammad al-‘Aqil, penerbit:
Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar